Tekanan dan manusia

Ditulis pada, 22 September 2023, 02:41

Tekanan dan manusia

Sering kali kita merasa bahwa hidup ini begitu tegang, stres dan penuh akan tekanan. Saya jadi teringat kisah mitologi yunani, seorang raja bernama Sisyphus. Ia melakukan kesalahan yang mengakibatkan dewa menghukumnya, hukumannya adalah dengan membawa batu dari dasar gunung hingga ke puncak, namun setelah itu batu itu terjatuh kembali ke bawah dan Sisyphus harus mendorongnya lagi, terus menerus selamanya.

Jika kita menjadi Sisyphus, kita pasti akan mengalami keputusasaan, ketegangan, stres, depresi dan penuh akan tekanan. Namun apakah kita harus merasakan itu? Salahsatu pikiran yang menjadi alternatif untuk menyelesaikan masalah itu adalah dengan filsafat absurdisme. Absurdisme ditawarkan oleh Albert Camus agak kita memahami bahwa hidup ini sudah absurtd dari awal dan jalani saja, sehingga dengan begitu, kita dapat mengwajarkan apa yang terjadi, seperti tekanan dalam bekerja, tuntutan tujuan, komitmen yang sungguh berat, dan banyak hal yang memang membuat diri kita terasa hancur.

Dengan absurdisme yang disuguhkan, membuat kita menerima bahwa kondisi ini, kondisi kita, pada dasarnya adalah sebuah kerandoman, dan ke absurdan hidup. Segalanya sudah kacau dan semua diluar kuasa kita. Dengan syarat menerima kondisi ini, maka kita akan mencoba bahwa nikmati lah hidup ini. Jika contoh yang di berikan Albert Camus, bahwa daripada mati menghindari masalah, lebih baik ngopi saja. Artinya adalah masalah ya masalah, problem besar ya problem, bukan hal yang harus di renungi dan membuat kita merasa lelah dan sakit sendiri, namun jalani saja, maju, dan nikmati dari sudut pandang yang berbeda.

Ajaran lain misalnya stoikisme yang tentunya kalangan milenial sudah sering mendengar falsafah ini, ini juga yang menjadi cara bahwa tekanan ya tekanan, namun tentu dari awal adalah hal di luar kuasa kita, bukan kita sendiri yang membuat atau menginginkannya. Sehingga satu satunya cara adalah dengan menerima dengan lapang dada, dan nikmati segalanya.

Baik stoik maupun absurdis, memiliki tujuan yang sama, yakni membahagiakan diri di lingkungan yang penuh tantangan dan berat.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.