Disampingi manusia makhluk individu, manusia juga adalah makhluk sosial, mereka tidak bisa hidup sendirian. Pernahkah kita berpikir bahwa kita selalu bergantung sama orang lain? atau pernahkah kita berpikir bahwa kita aman bersama orang lain? Ini mungkin disebut sebagai "Selimut Keamanan".
Akan ada waktu di mana dalam keadaan tertentu, kita berlindung dari orang lain, seperti keluarga, pasangan atau mungkin sahabat sendiri. Rasa lebih aman dan mengedepankan 'mengorbankan' orang lain berada di "depan" kita, dan seakan kita berlindung darinya.
Apakah sejahat itu kita? Tidak juga. Karena hal itu sudah seperti insting manusia. Paradoks ini terjadi karena beberapa hal, seperti kita percaya pada orang itu, kedua kita merasa akan aman dengan orang itu, ketiga kita bisa bergantung pada orang itu.
Namun, pertanyaan selanjutnya, apakah hal itu baik untuk kita? Berlindung dengan selimut keamanan. Baik buruknya adalah relatif bagi diri masing-masing individu.
Kita akan bicara hal buruknya terlebih dahulu, Perlu diingat, bahwa manusia adalah makhluk individu, ada batasan yang sewajarnya kita harus menggunakan selimut ini atau tidak, bergantung atau tidak, berlindung atau tidak. Kita harus ingat, bahwa permasalahan kita, sejatinya adalah masalah yang harus diselesaikan oleh kita sendiri, setidaknya. Misalnya hal sepele seperti mengerjakan tugas, atau hal rumit seperti tanggung jawab pada pekerjaan. Sewajarnya kita harus bisa mengerjakannya secara individu.
Minta tolong bukan hal yang selalu kita teriakan. Mengapa kita tidak minta tolong dahulu pada otak kita, pikiran kita, perasaan kita? Mereka semua yang paling dekat dengan individu ini. Minta tolong artinya kita telah kewalahan pada sesuatu hal atau masalah. Di situ mungkin kita baru bisa menggunakan selimut keamanan.
Setelah kita berbicara tentang hal buruk dari selimut keamanan, kita coba bahas hal baik dari selimut keamanan. Tentu simpelnya, kita akan lebih percaya pada mereka yang kita gantungi. Secara mental khususnya, kita akan merasa tenang dan tenteram karena ada orang itu dalam hidup kita. Atau semisal, ketika kita merasa terancam oleh ular berbisa, ada seseorang yang lebih kuat dan profesional menghadapi ular itu, maka kita akan merasa lebih aman dan tidak takut.
Seperti paradoks pada umumnya, pasti mempunyai titik balik permasalahan yang terkadang menjadi dilema. Paradoks selimut keamanan akan menjadi dilema ketika selimut itu rusak. Rusak bisa dalam artian fisik, ataupun kondisi tertentu. Misalnya seperti kita sudah nyaman bersama orang lain, kita merasa aman, kita merasa tenteram, namun mungkin suatu saat, orang lain itu rusak (sakit) atau meninggalkan kita. Hal ini yang membuat kita merasa kehilangan. Karena kita sudah banyak bergantung dan 'menyerahkan' hidup kita padanya.
Begitulah paradoks selimut keamanan, yang bisa ambil benang merahnya adalah, sebelum kita bergantung pada orang lain, setidaknya kita sudah berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan masalah kita. Masalah apa pun. Karena ke bergantungan adalah awal ketakutan kehilangan.
