Paradoks Pahlawan.

Ditulis pada, 08 June 2021, 17:56

Paradoks Pahlawan.

Pahlawan adalah manusia pilihan yang biasanya dijadikan sebagai pemeran utama untuk melawan musuh seperti raja iblis. Pahlawan datang, membunuh raja iblis untuk mendapatkan kebahagiaan dan perdamaian di dunia manusia. Namun, apakah ini menjadi hal yang biasa? Pernahkah kita berfikir bahwa apakah kita harus membunuh atau menyingkirkan sesuatu yang dianggap negatif oleh orang banyak, demi keadilan? Pernahkah kita berfikir sesuatu yang disebut buruk adalah hal yang tidak memiliki kebaikan? Dan apakah pahlawan menjadi orang yang benar dan raja iblis adalah orang yang salah? 

Kebaikan ada, karena ada kejahatan. Bagaimana cara kita menilai ini adalah kebaikan jika kita tidak sandingkan kebaikan dengan kejahatan. Dengan begitu kita bisa menilai hal ini baik, atau hal ini jahat. Kembali pada pahlawan dan raja iblis, apa jadinya jika raja iblis dan bawahannya di bumi hanguskan, apakah yang disebut pahlawan masih bernilai pahlawan ketika tidak ada perbandingannya. Ini yang disebut paradoks pahlawan.

Pahlawan akan berada pada dua kondisi, ketika dia membunuh semua musuh, dia mendapatkan gelar pahlawan secara nyata, sekaligus kehilangan gelarnya secara makna. 

Namun, tidak hanya pahlawan saja, raja iblis pun seperti itu,  ketika ternyata pahlawan gagal membunuhnya, dan raja iblis menyerang seluruh umat manusia, apakah ada yang namanya kejahatan lagi jika semua kebaikan di basmi? Perbandingan seperti ini harus selalu ada demi mempertahankan kualitas atau kuantitas tertentu. 

Jika tidak ada perbanding nilai, akan datang masalah baru dalam pemahaman intelektual. Salahsatunya adalah pemahaman relatif. Misalnya kebaikan yang berada pada posisi yang salah. Jika di lihat ke cerita raja iblis setelah mengalahkan pahlawan dan rakyatnya, kebaikan telah hilang,  dan bisa saja perspektif raja iblis dan rakyatnya mengenai kejahatan berubah menjadi kebaikan menurut mereka. Misalnya dengan membunuh menjadi suatu kebahagiaan yang wajar, atau mencuri adalah pekerjaan yang di terima oleh masyarakat. 

Paradoks terkadang menjadi merumitkan pemahaman kita, namun yang harus kita pahami adalah kita harus memikirkan dua sudut pandang atau lebih dari setiap kasus paradoks, dalam kasus ini adalah tentang pahlawan yang membunuh kejahatan demi keadilan. Dan pada akhirnya keadilan ini menjadi tanda tanya baru lagi dalam sebuah pemahaman intelektual.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.