Merelakan kebebasan, demi melindungi kebebasan.

Ditulis pada, 24 May 2021, 15:18

Merelakan kebebasan, demi melindungi kebebasan.

Manusia ditakdirkan dengan hidup bebas, Hak asasi manusia, hak hidup, kemanusiaan, keadilan atau kesejahteraan. Kebebasan menjadi tujuan dari kehidupan kita. Namun terkadang arti kata kebebasan ini bisa saja berbanding terbalik. Ini adalah paradoks kebebasan.

Kita harus ingat, terkadang untuk meraih sesuatu harus mengorbankan sesuatu juga, pertukaran setara. Dan salah satu bentuk konkretnya adalah paradoks kebebasan. 

Kebebasan sering disandingkan dengan aturan. Jadi mungkin tampaknya kita tidak pernah bebas secara keseluruhan. Kita ambil contoh dengan salah satu penyimpangan norma adat atau agama, 'hubungan bebas'. Di samping manusia adalah makhluk yang terus memproduksi keturunannya, Kita merasa bisa melakukan hal ini dengan bebas dengan siapa pun dan di mana pun. Tapi dengan adanya aturan, seperti norma adat atau agama, maka kebebasan ini harus di bendung. Jika kita melanggar atau menolak aturan dari norma ini, maka bisa jadi, kebebasan kita melakukannya akan benar-benar lenyap. Kita bisa melakukan hal ini dengan pasangan yang ter data atau di akui oleh adat atau agama.

Jadi kita bisa menyebutkan bahwa, kita harus merelakan kebebasan berhubungan, untuk melindungi kebebasan kita ke depannya.

Tidak hanya hal seperti ini saja dalam masalah perelaan kebebasan untuk melindungi kebebasan kita sendiri, tentu mulai dari kehidupan kita, pendidikan kita, atau dunia kerja kita. Sudah sewajarnya kita berada pada paradoks ini setiap harinya. 

Kita harus sadar, bahwa sejatinya kebebasan itu tidak pernah ada, pasti akan ada lapisan yang melindungi kebebasan itu lagi, jika kita memaksa keluar dari lapisan ini, maka bisa jadi, kebebasan yang selama ini kita dapat, karena ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, kebebasan ini akan lenyap.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.