Pandemi ini adalah bencana biologis manusia saat ini, ini menyebabkan kelumpuhan di segala bidang. Kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Kita sebagai mahasiswa dipaksa belajar dari rumah, bekerja dari rumah, hidup dari rumah. Namun apakah ini bencana sesungguhnya buat kita? Apakah pandemi ini selalu berdampak negatif bagi kita sebagai mahasiswa?
Terbukti, kualitas dari siswa dan mahasiswa menurun sejak era pandemic, kebodohan terjadi dimana mana, tidak memandang mana yang kaya, mana yang miskin, kualitas semakin menurun, dan menurun. Tapi benarkah ini gara gara pandemic? Mari kita telaah lebih dalam permasalahan ini.
Faktor pertama adalah teknologi. Teknologi nampaknya sangat berpengaruh pada kondisi ini, dulu kita merasa belajar itu harus selalu bergantung dengan dosen atau siswa, tapi dengan kondisi pandemic seperti ini, kita di ingatkan bahwa, kita harus bergantung dengan teknologi untuk mendapatkan informasi tentang apa yang kita pelajari.
Belajar satu mata pelajaran setiap minggunya dan hanya sekitar 2 jam saja, itu tidak cukup untuk kita mendapatkan ilmu baru. Apa yang disebut ilmu pengetahuan adalah hal yang mendalam kita pelajari. Ilmu pengetahuan harus di lihat dari sudut pandang yang berbeda, maka teknologi seperti Google inilah yang membantu kita untuk mendapatkannya. Apalagi teknologi menjadi hal yang setiap hari kita gunakan, tidak ada alasan untuk kita menolak teknologi untuk belajar.
Selanjutnya adalah, kita harus kembali ke fitrah kita sebagai mahasiswa, salahsatunya adalah Tri dharma perguruan tinggi. Pada pandemic ini makna dari ketiga keagungan yang di Agungkan kita sebagai mahasiswa, mulai meredup. Kita dalam krisis ini.
Pendidikan, telah dibahas oleh kita dari awal, jika pendidikan kita semakin menurun, maka kita tidak bisa melakukan pengabdian kepada masyarakat, dan kita tidak bisa mendapatkan data untuk penelitian. Lingkaran yang saling terhubung dan mendukung tri dharma lainnya.
Jadi pada akhirnya belajar adalah dasar kita untuk menjadi mahasiswa. Mahasiswa adalah Maha dari segala siswa, artinya jika kita masih bergantung dengan dosen untuk mendapatkan ilmu, maka kita tidak ada bedanya dengan siswa. Tapi bukan berarti kita tidak boleh percaya dengan dosen, artinya adalah dosen sebagai posisi untuk memberikan sharing, konsultasi atau motivasi. Dosen membimbing sesuai bidang kita.
Setelah masalah tri dharma perguruan tinggi, nampaknya masalah lain muncul, kita terlalu mementingkan kuantitas daripada kualitas. Artinya, kita selalu terikat dengan nilai, dengan hafalan atau dengan kurikulum. Ini membuat kita lupa eksistensi kualitas dari mahasiswa.
Di Indonesia, berdasarkan data, banyak sekali sarjana yang tidak bekerja, dan bahkan jika berkerja pun, banyak yang melenceng dari bidang nya. Kualitas mahasiswa salahsatu faktornya. Kita harus terbiasa beradaptasi dengan dunia luar, artinya dunia industri sesuai bidang yang kita Dalami.
Namun timbul pertanyaan baru, "dengan kuantitas yang baik, maka orang tua kita akan bangga". Apakah ini hal yang bagus?. Jika kita menyebutkan itu, maka kita sebenarnya mencari perlindungan untuk diri kita. Kita harus ingat, perspektif orang tua bisa dirubah, kita saja yang tidak ingin merubah sudut pandang mereka.
Sebenarnya, jika kita mau, kita bisa merubah sudut pandang orang tua kita agar melihat value atau nilai dari kita bukanlah angka. Saya percaya, orang tua kita akan lebih berbangga daripada nilai yang besar. Dulu mungkin angka masih bisa menjadi kadar nilai dari diri kita, namun sekarang, kualitas yang selalu di utamakan. Kasarnya, manusia lulusan SD yang lebih berkualitas akan di pandang lebih baik daripada manusia bergelar akademis dengan nilai yang sempurna.
Ini kasus jauh sebelum pandemic terjadi, Namun bagaimana sekarang? Banyak yang berbicara berdasarkan keluhan kita sebagai mahasiswa. Kita selalu menyalahkan orang lain, atau sesuatu hal, ketika kita tertimpa musibah. Pemerintah lah, dosen lah, kampus lah.
Hal inilah yang harus kita audit. Kita harus introspeksi diri dan berfikir untuk bisa beradaptasi dalam segala hal. Manusia dekat pantai, akan lebih jago berenang, Manusia yang berada di gunung, lebih pandai ketika naik gunung. Kita yang berada dalam genggaman pandemic, harusnya lebih pandai menjadi orang yang berpendidikan, bermoral, dan bisa menggunakan ilmunya untuk umat manusia lain.
Hidup mahasiswa, maha dari segala siswa.
Pandemi, dan mahasiswa.
Ditulis pada, 24 July 2021, 10:11

Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.