Nihilitas Seorang Pria

Ditulis pada, 18 July 2026, 07:35

Nihilitas Seorang Pria

Jika seorang pria telah merengkuh dan menyelesaikan tahap Vita Logica seperti yang saya sampaikan di dalam buku saya, ia akan mendapati dirinya tiba pada kondisi nihilisme. Bayangkan sebuah fase tanpa keinginan, tanpa arah, dan tanpa makna hidup yang mengikat. Namun perlu disadari, kondisi ini adalah kulminasi dari proses panjang pencapaian Vita Logica. Oleh karena itu, pada dasarnya bukanlah sebuah masalah jika kita hidup tanpa letupan hasrat, tanpa kompas arah, maupun tanpa makna hidup. Pertanyaan krusial yang kemudian muncul adalah: bagaimana seorang vitanis (penganut Vita Logica) menjalani kehidupan berkeluarga?

Mungkin tidak akan menjadi masalah jika kita membicarakan nihilitas seorang pria—yang hampa akan keinginan, arah, dan makna—dalam konteks kesendirian. Keadaan itu bisa diterima, dan orang lain pun mungkin tak acuh, karena hal tersebut murni kehendak kita. Namun, ketika ia memutuskan untuk berkeluarga, wajarkah jika ia tetap menanggalkan keinginan, arah, dan makna hidup?

Menurut saya, nilai-nilai untuk mengisi ketiga ruang kosong tersebut justru harus ditarik dari luar diri kita (eksternal). Misalnya, nilai itu kini berpusat pada istri atau anak-anak kita. Saya mungkin tidak lagi memedulikan eksistensi diri saya sendiri, tetapi di saat yang sama, pengabaian total terhadap diri sendiri akan menyebabkan kerusakan pada nilai eksternal tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Oleh karena itu, sebagai seorang pria berkeluarga, kita perlu bercermin dan menjaga diri agar nilai mulia tersebut tetap murni. Hal ini bisa sesederhana menjaga kesehatan, stabilitas ekonomi, dan kebutuhan esensial lainnya, dengan dilandasi sikap stoik serta rasa cukup atas apa yang benar-benar kita butuhkan. Sikap ini mungkin seolah mengkhianati prinsip nihilisme itu sendiri, tetapi justru di sanalah letak realitas dilematis yang harus diterima dengan lapang dada. Jika kita menolak kondisi ini dan tetap bersikukuh pada nihilisme absolut, dampaknya akan sama buruknya dengan mereka yang belum tuntas menyelesaikan Vita Logica-nya.

Jika kita mampu berdamai dalam pembentukan nilai kompromis tersebut, dampaknya akan langsung merefleksikan kebaikan pada nilai eksternal di dalam keluarga. Dengan demikian, kita bisa memusatkan energi untuk mengembangkan nilai-nilai keluarga itu sendiri. Maksud saya begini: Anda adalah seorang vitanis, dan Anda memutuskan untuk menikah serta memiliki anak. Maka, secara sadar Anda harus tunduk pada tanggung jawab fundamental dari pernikahan itu sendiri. Ketika kita sudah "selesai" dengan ego dan diri kita sendiri, bukankah menjadi sebuah kemuliaan jika sisa hidup kita dedikasikan untuk memuliakan istri dan anak kita?

Melalui pemikiran ini, saya mencoba mendamaikan nihilisme dengan hal-hal praktis dalam bahtera rumah tangga. Sebab, menjadi seorang nihilis bukan berarti memusnahkan rasa tanggung jawab—yang mana hakikat tanggung jawab itu sendiri sebenarnya sudah terinkorporasi secara utuh di dalam filsafat Vita Logica.

Inilah tahapan lanjutan setelah kita tuntas dengan diri sendiri: berfokus pada keluarga. Kita harus mengesampingkan kekhawatiran tentang apakah istri kita seorang vitanis atau nihilis juga. Sebab, jika salah satu pilar keluarga (sang suami) sudah mencapai tahap vitanis, niscaya keluarga tersebut dapat terhindar dari kekacauan, miskalkulasi, maupun drama-drama tak berarti yang kerap terjadi belakangan ini.

Kembali pada esensi nihilitas seorang pria. Dengan menanggalkan egoisme sang "I am Center", fokus kita akan sepenuhnya beralih pada hal-hal eksternal—keluarga, istri, anak, atau kerabat—tanpa merusak atau membebani mereka. Memang akan sangat sulit untuk menjawab pertanyaan, "Apa lagi keinginan pribadi saya?" karena nihilisme telah memeluk pria tersebut, bukan sekadar dari luar, melainkan telah menyatu dengan relung jiwanya. Maka, biarkanlah seluruh tenaga, kekayaan, keinginan, ketamakan, atau keseluruhan tujuh sifat dasar manusia itu terkuras habis dari diri seorang pria, demi satu tujuan absolut: mempertahankan eksistensi tanggung jawabnya.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.