Masih ingat kah kita ketika kecil, terjatuh ke ubin dan menangis?
Kebanyakan orang tua selalu bilang "duh, ubinnya jahat ya", "duh
kursinya jahat ya". Bermula dari sana lah kita menjadi orang yang selalu
menyalahkan sesuatu ketika terjadi hal yang tidak diinginkan. Misalnya
seperti ketika ingin belajar di malam hari, tiba tiba listriknya mati,
yang di salahkan tentunya listrik, karena tidak bisa bekerja dengan
baik, namun kita tidak menyalahkan diri sendiri karena lalai dengan
waktu, mengapa tidak belajar di pagi hari yang cerah, atau di saat
listrik sedang menyala terus menerus.
Kejadian menyalahkan
sesuatu membuat kita tidak berfikir untuk mengkoreksi diri sendiri,
mengevaluasi diri sendiri, hanya melampiaskan emosi kita, kesalahan
kita, kepada sebuah benda atau bahkan orang lain karena tidak sesuai
ekspetasi kita. Ini sesuatu yang harus kita rubah. Karena sungguh
berbahaya jika berfikiran seperti ini. Kita harus mengembalikan
moralitas kita pada hal hal yang nampaknya sepele, namun sungguh besar
akibat kelaknya.
Karena pada dasarnya apa yang membekas dari lama
akan sulit di hindarkan ketika kita dewasa. Pemahaman "menyalahkan
sesuatu" dari kita kecil ini akan membuat kita merasa, hal ini nampak
benar buat kita. Misalnya ketika kita kerja nanti, kita mendapatkan
masalah karena tidak mencapai target penjualan bulanan, akhirnya kita
hanya menyalahkan orang lain, karena tidak membeli produk kita, bukan
menyalahkan diri kita karena tidak mengintropeksi diri terhadap masalah
yang terjadi, salah kita di mana, bagaimana cara kita mencapai tujuan
kita, apa yang harus di lakukan agar tidak terulang lagi, harusnya
pertanyaan pertanyaan seperti ini yang muncul dalam benat kita.
Pada akhirnya kualitas kita bergantung pada seberapa besar kesadaran terhadap apa yang telah terjadi.
Menyalahkan Sesuatu.
Ditulis pada, 28 July 2021, 10:56

Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.