Waras di sini bukan berati mengarah kepada kehilangan akal (gila), namun kewarasan di sini lebih kepekaan kita terhadap perasaan dan logika kita. Di dewasa ini, era internet dan sosial media, terkadang kewarasan perasaan dan logika makin susah dikendalikan. Kewarasan mengambil kesimpulan, kewarasan mengatur emosi, dst. Tampaknya kita kurang memperhatikan hal ini untuk keberlangsungan hidup. Namun bagaimana cara kita menjaga kewarasan ini?
Salah satu hal yang kita bisa lakukan adalah banyak membaca. Membaca akan mempertahankan kewarasan kita teradap perasaan dan logika. Dengan membaca, otak kita akan terus bekerja dan berimajinasi dengan apa yang kita baca.
Memperoleh informasi secara perlahan akan merawat otak kita setiap kali membaca. Mengimajinasikan apa yang kita baca, seakan masuk ke dalam buku adalah kelebihan dari membaca. Kita bisa melatih emosi dan juga pikiran kita.
Dengan berbagai jenis buku, otak kita akan merasa tertantang untuk kita membaca, seperti misalnya buku rumit yang memerlukan logika atau penalaran tinggi, atau buku yang penuh dengan romansa percintaan yang indah. Semua hal ini yang bisa kita dapatkan dari membaca buku.
Terkadang kita mungkin merasa kantuk, terkadang, kita mungkin merasa apa yang kita baca tidak masuk ke otak atau terkadang, setelah membaca kita lupa akan apa yang telah dibaca. Tenang saja, itu adalah kewajaran. Semua orang seperti Bill Gates, atau Steve Jobs, mungkin pada awalnya seperti itu.
Dengan membaca, kita bisa melatih fokus kita, dan fokus pada satu hal adalah salah satu cara yang efektif untuk menjaga kewarasan dan kualitas dari otak kita. Kita harus ingat bahwa, dengan menikmati membaca, lambat laun kita akan semakin fokus dan efektif. Kita harus terus menjalankan otak kita secara terus menerus.
Hal yang tidak bisa menggantikan posisi buku adalah sosial media, sosial media tentunya akan bertolak belakang dengan semua tulisan di atas. Sosial media hanya akan membuat kita berhenti berpikir dan terus melakukan scroll yang tidak ada habisnya untuk memuaskan hormon dopamine. Yang akibatnya, lambat laun otak kita akan terus mengecil karena tidak digunakan dengan semestinya.
Manusia tidak luput dari lupa, ini mungkin sudah kodrat dari Sang Pencipta. Namun mengapa di usia yang produktif, kita malah lebih pelupa dari orang tua kita? Jawabannya sederhana, Terlalu banyak konsumsi sosial media dan kurangnya membaca.
Buku-buku mulai ditinggalkan, begitu pula esai yang penting kita tidak pernah baca. Bodohnya, kita malah mempunyai banyak muka di sosial media (banyak akun dalam satu sosial media). Dengan embel karena ini adalah sosial media jadi kita bisa bebas melakukan apa pun. hal Toxic.
Tampaknya kewarasan kita semakin lama semakin jauh. Kita mungkin masih bisa tertawa, bisa bercanda, bisa berkomunikasi yang wajar dengan orang lain di sosial media, namun apakah masih waraskah kita?
