Menjadi Orang tua.

Ditulis pada, 16 May 2023, 16:47

Menjadi Orang tua.

Orang tua adalah orang terbaik yang paling terbaik dalam hidup seorang anak, dan kita semua menerima itu adanya. Namun, bukan saya jika saya tidak mengkritik apa yang terjadi di masyarakat terhadap sang orang tua ini. Kebanyakan orang tua menganggap dirinya sebagai orang yang berpengaruh dan penting untuk anak, namun nyatanya tidak. Filsafat kesetaraan menyatakan bahwa setiap orang adalah setara, namun beda fungsinya, anak, ibu dan ayah adalah setara dan punya peranan masing masing. Namun pertanyaan selanjutnya adalah mengapa generasi ke generasi saat ini tidak mendapatkan kesetaraan itu? Jelas, feodalisme dan militerisme.


Feodalisme seperti yang kita tahu adalah sebuah isme yang memiliki cara pandang sebagai salah satu orang menjadi pusat dan mengatur karena dianggap sebagai orang yang penting atau berpengalaman, dalam kasus ini adalah bahwa 'kesombongan' orang tua yang memiliki pengalaman lebih atau sosok ibu karena melahirkan kita, menganggap kita tidak perlu demokrasi dan kebebasan, sehingga dengan kata lain, ini yang menjadi masalah orang tua karena terbawa feodalisme masa lalu, karena memang orang tua kita mungkin di feodalismekan juga oleh orang tuanya dan seterusnya. Ini berakibat cukup fatal dalam cara anak hidup, yang akan di jelaskan belakangan. Yang kedua adalah militerisasi, militerisasi adalah konsep spesial karena dan cukup berpengaruh di era tahun 65-91, generasi itu menghasilkan orang tua yang di siplin dan ketat terhadap aturan, terlebih jika memang orang tuanya orang tua kita pastinya, adalah militer/polisi, maka pengaruh militerisasi akan sangat terasa bagi kita. Ini juga adalah sebuah masalah tentunya.


Dalam konsep keluarga, istilah feodalisme mungkin digunakan untuk menggambarkan situasi di mana salah satu anggota keluarga (biasanya orang tua) memiliki otoritas atau kekuasaan yang kuat dan anggota lainnya (anak-anak atau pasangan) berada dalam posisi yang lebih rendah atau di bawah pengaruh yang kuat. Ini bisa mencakup keputusan-keputusan penting yang dibuat oleh satu orang, penentuan peran dan tugas yang ditugaskan, atau ketidakseimbangan kekuasaan yang membuat beberapa anggota keluarga merasa tidak dihargai atau tidak memiliki kendali atas hidup mereka sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa hak anak untuk bebas atau hak anak untuk berdemokrasi tertahan dan terkunci rapat, karena segalanya tergantung dari sang orang tua ini. 


Keluarga yang terlibat dalam militerisasi cenderung juga memiliki aturan yang ketat dan tegas. Setiap anggota keluarga diharapkan untuk mengikuti peraturan dengan ketat dan tidak ada toleransi terhadap pelanggaran. Aturan ini mungkin termasuk jadwal ketat, tata tertib rumah tangga yang kaku, atau harapan yang tinggi terkait penampilan dan perilaku. Anggota keluarga yang terlibat dalam militer, seperti seorang orang tua yang merupakan seorang prajurit aktif atau veteran, mungkin memiliki otoritas yang dominan dalam keluarga. Kepemimpinan dan kedisiplinan yang dihayati dalam kehidupan militer dapat mempengaruhi cara mereka memimpin dan mengelola keluarga. Keputusan-keputusan penting sering kali diambil oleh orang tersebut, dengan sedikit ruang bagi anggota keluarga lainnya untuk berkontribusi dalam pengambilan keputusan. Fokus yang kuat pada disiplin dan kinerja dalam kehidupan militer dapat menyebabkan kurangnya keterlibatan emosional dalam keluarga. Anggota keluarga mungkin kesulitan untuk mengungkapkan emosi mereka secara terbuka atau membagikan masalah pribadi mereka, karena norma-norma militer mendorong untuk menunjukkan kekuatan dan ketahanan. Sehingga dapat dikatakan juga bahwa militerisasi yang terfeodalisasi itu menjadi sebuah kekangan baru di era modern saat ini.


Jika mengacu pada sejarah, misalnya di era militer, bahwa anak tidak boleh keluar rumah, atau keluar hanya untuk bersekolah, ini sesuatu yang tradisional dalam pengekangan, namun saat ini, kebebasan secara fisik mungkin terjadi namun kebebasan secara batin lah yang terkengang. Ketika disiplin yang terlalu ketat diterapkan, anak mungkin merasa terkekang dan sulit untuk mengembangkan identitas dan keinginan mereka sendiri. Mereka mungkin merasa sulit untuk mengekspresikan minat, bakat, atau impian mereka yang unik. Hal ini dapat menghambat perkembangan pribadi dan kemandirian anak. Disiplin yang berlebihan cenderung menekankan kepatuhan dan menurunkan kebebasan kreativitas serta inisiatif. Anak-anak mungkin merasa takut atau enggan untuk mencoba hal baru atau berpikir di luar batasan yang ditetapkan, karena khawatir akan konsekuensi yang ketat. Menerapkan disiplin yang berlebihan dapat menyebabkan anak merasa tidak mampu memenuhi harapan yang sangat tinggi atau tidak memiliki kontrol atas hidup mereka sendiri. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa rendah diri dan kecemasan berlebihan pada anak-anak. Mengekang anak dengan disiplin yang ketat juga dapat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga. Anak-anak mungkin merasa tidak bisa berbicara terbuka atau merasa tidak dihargai dalam keluarga. Ini dapat merusak komunikasi yang sehat dan hubungan yang erat antara anggota keluarga. Disiplin yang berlebihan cenderung menekankan pada aspek fisik dan kepatuhan, sementara kurang memperhatikan pemahaman emosional anak. Anak mungkin merasa kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengungkapkan emosi mereka, serta kesulitan memahami emosi orang lain. Sehingga, dapat di simpulkan jika proses pengekangan lewat feodalisme atau militerisasi ini sangat merusak anak, dan jika sang orang tua mengkritik atau memarahi bahwa kita banyak kekurangan seperti poin di atas, maka ya wajar saja karena sang orang tua itu sendirilah yang membuatnya seperti itu.


Seperti tulisan saya dulu, kertas yang baru dan dirusak, walaupun di rapihkan kertas itu tidak akan pernah rapi seperti sedia kala. Walaupun anak dapat melupakan segala hal yang dilakukan orang tuanya secara negatif seperti diatas, tetap saja itu akan ada dalam alam bawah sadarnya anak anak itu. Justru hal seperti ini lah yang berbahaya, karena sudah mendarah daging dalam diri sehingga mentalnya lambat laun akan hancur dan rusak.


Hari ibu atau hari ayah, bukanlah sebuah perayaan dan memberi selamat serta meminta maaf kepada ibu dan ayah, namun di hari itulah seharusnya ibu dan ayah melakukan muhasabah diri dan perenungan, dosa apa yang telah di lakukan oleh dirinya baik kepada pasangan atau ke pada anak khususnya. Sehingga cukup muak jika memang setiap hari ibu atau hari ayah, sang anak lah yang memeberi ucapan atau hadiah. Justru itu adalah hari perenungan untuk mereka.


Friedrich Nietzsche adalah seorang filsuf Jerman yang mengemukakan pandangan yang menarik tentang kebebasan. Bagi Nietzsche, kebebasan bukanlah sekadar kebebasan dari kendali atau batasan eksternal, tetapi juga kebebasan untuk menjadi diri sendiri dan mewujudkan potensi individu.


Nietzsche mengkritik pandangan tradisional tentang kebebasan sebagai kebebasan dari hukum atau keterikatan eksternal. Baginya, kebebasan yang sejati terletak pada kemampuan individu untuk melampaui kendali moral, sosial, dan budaya yang dapat menghambat perkembangan diri mereka. Kebebasan sejati, menurut Nietzsche, adalah kebebasan untuk mengikuti kehendak kuat dan nafsu yang menjadi inti individu, tanpa dibatasi oleh nilai-nilai atau norma-norma yang diterima oleh masyarakat.


Dalam konteks kebebasan anak dalam hidup, Nietzsche mungkin akan menekankan pentingnya membebaskan anak-anak dari norma dan ekspektasi yang dipaksakan oleh masyarakat atau keluarga. Menurutnya, anak-anak harus diberikan ruang untuk mengembangkan kehendak mereka sendiri, mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta membangun identitas mereka sendiri.


Sangat sedih memang, kebanyakan generasi saya atau dibawah saya memiliki tuntutan tuntutan yang bersifat kepalsuan karena apa yang biasa dituntutkan oleh generasi sebelum saya, generasi orang tua sudah tidak relevan untuk dicapai. Mengapa? Karena itu termasuk sejarah, apa yang dilakukan orang tua kita, atau yang dituntutkan oleh orang tua kita, Karl Marx sebut sebagai materialsme historis, segala sesuatu itu harus berkaitan dengan konteks zamannya, sehingga tidak ada yang statik dalam sebuah tuntutan, karena segala sesuatu punya porsinya masing masing, dan punya waktunya masing masing. 


Perlu diingat pula bahwa orang tua harus dapat membedakan antara cinta dan protektif.  Cinta orang tua bertujuan untuk kesejahteraan anak secara keseluruhan, termasuk aspek emosional, fisik, dan perkembangan mereka. Cinta ini mencakup dukungan emosional, kasih sayang, dan perhatian yang positif terhadap kebutuhan dan kebahagiaan anak. Di sisi lain, protektif secara negatif cenderung lebih fokus pada perlindungan fisik atau penghindaran risiko, tanpa memberikan perhatian yang cukup pada aspek perkembangan emosional atau kemandirian anak. Cinta orang tua didasarkan pada dorongan untuk membantu anak tumbuh dan menjadi individu yang mandiri. Orang tua yang mencintai anak mereka memberikan ruang bagi anak untuk belajar, mengambil risiko yang wajar, dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk hidup secara independen. Di sisi lain, protektif secara negatif seringkali menghambat kemandirian anak dengan memberlakukan batasan yang berlebihan atau terlalu melindungi mereka dari segala risiko. Cinta orang tua melibatkan pemahaman bahwa anak perlu menjalani pengalaman, membuat kesalahan, dan belajar dari mereka untuk tumbuh dan berkembang. Orang tua yang mencintai anak mereka memberikan dukungan dan pemahaman saat anak menghadapi tantangan atau kesalahan. Protektif secara negatif cenderung menghindari situasi yang menantang atau berpotensi menyebabkan kesalahan, sehingga menghambat proses pembelajaran anak. Cinta orang tua mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik individu anak. Setiap anak unik dan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orang tua yang mencintai anak mereka akan memahami dan menghargai keunikan dan perbedaan anak, sementara protektif secara negatif cenderung menerapkan pendekatan yang sama untuk semua anak, tanpa mempertimbangkan perbedaan individual. Sehingga bagi orang tua, dibutuhkan sebuah kebijaksanaan dalam membedakan dua hal ini. 


Sigmund Freud adalah seorang psikoanalis terkenal yang mengembangkan teori-teori yang mendalam tentang perkembangan psikologis dan kepribadian. Meskipun Freud tidak secara khusus membahas protektif negatif dalam konteks yang sama, ada beberapa konsep dalam teori Freud yang mungkin berkaitan dengan dampak psikologis dari protektif negatif. Salah satu konsep penting dalam teori Freud adalah "ego" atau "aku". Ego merupakan bagian dari kepribadian yang bertanggung jawab untuk menengahi antara dorongan-dorongan tak sadar (id) dan norma-norma sosial dan realitas (superego). Ketika orang tua berperilaku protektif secara negatif terhadap anak, mereka dapat mempengaruhi perkembangan ego anak. Jika anak terlalu dibatasi atau dilindungi, ego anak mungkin mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan adaptasi dan pengambilan keputusan yang sehat. Anak mungkin menjadi bergantung pada orang lain, merasa tidak mampu menghadapi tantangan atau mengatasi kesulitan, atau mungkin mengalami rasa ketidakamanan dan kecemasan yang berlebihan. Selain itu, dalam teori Freud, terdapat konsep "konflik intrapsikis" yang berkaitan dengan perkembangan psikologis. Jika anak terlalu dibatasi dalam eksplorasi dan ekspresi diri mereka, konflik intrapsikis dapat timbul antara kebutuhan mereka untuk menjadi individu yang mandiri dan kebutuhan untuk memenuhi harapan dan perlindungan orang tua. Konflik semacam ini dapat menyebabkan ketegangan psikologis, perasaan tidak puas, atau perkembangan kepribadian yang terhambat.


Terakhir, adalah pertanyaan, untuk kita sebagai calon orang tua, apakah kita memikirkan hal ini untuk dipersiapkan? dan untuk orang tua, apakah anda telah 'menjadi orang tua'?




Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.