Menjadi baik tanpa sesuatu.

Ditulis pada, 11 April 2022, 18:30

Menjadi baik tanpa sesuatu.

Kebanyakan dari kita merasa harus baik ketika ada kondisi tertentu. Misalnya terhadap Tuhan, karena Tuhan berbicara harus memberi orang lain, maka kita akan memberi orang lain. Jika kata ibu harus menjadi orang yang rajin, kita akan menjadi orang yang rajin, namun jika seperti itu, bukankah kita hanya menjadi seperti robot saja? jika diperintah A maka kita lakukan, Jika dilarang B kita patuhi dan jika tidak ada perintah, maka kita diam saja.

Manusia seperti itu akan terlalu ketat dan melemahkan moral sebagai manusia. Terlebih misalnya, dalam peribadatan. Ketika bulan Ramadhan, orang orang giat ke tempat ibadah, rajin beribadah, dan menjadi sering memberi. Alasan mereka melakukan ini berasal dari Perintah Tuhan dan juga mendapatkan sebuah janji Tuhan seperti amal berlipat ganda yang melimpah di akhirat sana. Namun setelah melewati bulan ini, orang orang kembali biasa. Biasa tidak bersedekah, biasa tidak beribadah ke tempat ibadah, dan melakukan hal buruk lagi. 

Manusia bermoral haruslah konsisten terhadap kebaikan. Tidak bergantung pada apa yang menjadi kondisi tertentu atau iming iming hal yang menjajikan di Akhirat sana. Kebijaksaan menjadi baik berasal dari diri, bukan dari perintah Tuhan. 

Namun bagaimana dengan ketidaktahuan kita terhadap mana yang baik mana yang tidak. Secara alamiah, manusia akan merasa sakit ketika di cubit, secara alamiah, manusia akan merasa bahagia ketika berhasil, jika di kaitkan, maka sebenarnya, manusia mempunyai sensitifitas untuk menjadi baik. Sifat baik telah atau akan selalu datang pada diri kita. Namun ada dua kondisi yang di hadapi. Kita mengsekusi hal baik itu atau kita pura pura tidak tahu dan menolak kebaikan itu.

Tentu, bisa saja kebaikan berasal dari tulisan kitab suci yang diberikan Tuhan, namun kembali lagi, kebaikan itu telah datang, namun bagaimana kita mengesekusi kebaikan itu. Apakah akan di lakukan, atau pura pura tidak tahu dan menolaknya.

Sehingga dapat disimpulkan, untuk mengetahui seberapa baik dan buruknya manusia, dinilai dari moral dasar yang ada pada dirinya, konsistensinya dan bermoral tanpa kondisi tertentu.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.