Sedih memang sebuah hal yang terikat pada diri kita. Secara alamiah, kita akan bersedih ketika mendapatkan sebuah bencana, seperti kematian, kehilangan atau hal hal yang bersifat negatif lainnya. Itu yang selalu diwajarkan mengapa kita menangis. Namun mengapa kita bersedih?
Ada dua poin kenapa kita merasa bersedih. Poin pertama adalah kita menempatkan objek kesedihan pada apa yang berada dalam diri kita. Dan yang kedua adalah kita tidak memberikan yang terbaik untuk objek itu.
Poin pertama artinya, kita secara emosional terlalu terikat dengan objek ini. Dengan mencintai secara berlebihan pada suatu objek, maka lambat laun kita akan melupakan bahwa objek ini sebenarnya bukan dari apa yang berada dalam diri kita. Sehingga, ketika objek ini menghilang maka kita akan bersedih.
Poin kedua adalah, terkadang keberadaan objek yang dahulu masih ada atau telah ada, tidak di manfaatkan dengan baik oleh kita, sehingga, terkadang, kita menyesal dan berujung sedih ketika objek tersebut hilang. Karena suatu saat mungkin saja kita membutuhkan objek ini.
Misalnya pada objek pasangan, kita seperti sangat benar benar berlebihan dalam mencintai. Kita terlalu optimis pada masa depan dan lupa pada masa sekarang. Sehingga, apa yang terjadi ini, menyebabkan lupa bahwa eksistensi objek bisa saja menghilang, baik itu pergi meninggalkan pasangannya seperti selingkuh ataupun memutuskan hubungan.
Atau misalnya ketika pasangan meninggal dunia, kita akan menyesal dan bersedih ketika hubungan sebelumnya dilakukan biasa biasa saja dan bahkan tidak ada feedback yang positif pada pasangan, atau malah memberikan tekanan batin kepada pasangan yang meninggal ini, artinya objek pasangan tidak dimanfaatkan dengan baik sehingga kita akan menyesal ketika kehilangan pasangan dari dunia ini.
Terakhir adalah, selalu peka dan tempatkan objek pada apa yang di luar dari diri. Melakukan yang terbaik untuk objek objek yang kadang sepele, namun bisa saja menimbulkan efek kesedihan.
