Kita selalu menganggap bahwa laki laki adalah makhluk yang aktif sedangkan perempuan adalah makhluk yang pasif. Bahkan filsuf yunani kuno mengartikan bahwa perempuan itu adalah laki laki yang cacat. Namun benarkah seperti itu? apakah memang laki laki harus berada di atas dan perempuan dibawah?
Beberapa pandangan agama, mengagungkan perempuan sebagai manusia yang suci, bahkan ketika pernikahan pun, selalu, pihak perempuan yang diberikan mahar dan mas kawin yang berharga dari laki laki. Dan terkadang kuantitas dari mahar ataupun mas kawin menjadi sorotan utama bagi perempuan dan keluarganya. Jika memang posisinya seperti ini, bukankah terlihat hanya laki laki yang membutuhkan perempuan?
Misalnya pada permasalahan hidup, laki laki selalu dituntut untuk melindungi perempuan, dan bahkan terkadang perempuan hanya harus berdiam di rumah dan hidup sebagai 'pelayan' laki laki, berbakti pada laki laki. Jika disandingkan dengan kualitas fisik, mungkin jelas bahwa laki laki bisa melindungi perempuan, namun, tidak menutup kemungkinan juga bahwa perempuan haruslah melindungi laki laki, ini yang terkadang jarang terjadi.
Melimpahkan semua tanggung jawab pada laki laki adalah ketidaktepatan sebenarnya. Jika dilihat dari sudut pandang pasangan, bukankah tanggung jawab adalah milik bersama? segala hal harus lah seimbang dan terbagi rata, baik laki laki maupun perempuan. Kita tidak bisa melimpahkan semua tanggung jawab perempuan kepada laki laki, dan kita tidak bisa melimpahkan semua tanggung jawab laki laki kepada perempuan. Ini adalah pendekatan kesetaraan gender.
Kembali kepada pernikahan misalnya, haruslah apa yang dilakukan setara baik dari laki laki maupun perempuan. Mereka memiliki hak yang sama, bahkan jauh pada hal yang mendasar, seperti 'menembak' untuk pacaran. Secara kultur yang berjalan, khususnya di Indonesia ini, selalu laki laki yang memutuskan untuk menembak perempuannya. Namun bukankah perempuan bisa melakukan itu juga? Bahkan jika memang level nya adalah lamaran, selain daripada laki laki yang melamar perempuan, perempuan pun sebenarnya mempunyai hak untuk melamar laki laki. Memang aneh namun mungkin saja terjadi.
Yang jadi permasalahan selama ini adalah, ada rasa harga diri yang besar dari perempuan dan ada rasa gagah dan penuh tanggung jawab dari laki laki, inilah yang sebenarnya menyebabkan batasan antara perempuan dan laki laki.
Jika memang kita menganggap bahwa pernikahan adalah hidup bersama, tanggung jawab bersama dan mengambil keputusan bersama, maka seharusnya ada sebuah ketiadaan dalam tradisi lama yang menyebabkan harga diri perempuan dan tanggung jawab laki laki semakin besar. Tapi selalu saja, kultur atau tradisi yang telah berjalan ini membuat segala hal yang kurang tepat menjadi benar dan harus dipatuhi, selalu akan muncul sebuah kalimat seperti "ini sudah tradisi, patuhi saja".
Jika mengacu pada permasalahan klise rumah tangga, seperti kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, ini terkadang berasal dari hak penuh seorang laki laki melakukan apa saja pada perempuan. Perempuan dijadikan penindasan laki laki karena tidak bisa memuaskan laki laki itu baik secara fisik maupun psikis. Dari permasalahan umum ini sebenarnya sudah jelas sekali, bahwa apa yang menjadi tradisi dan apa yang menjadi kultur dapat menyebabkan kesenjangan gender. Pernikahan memang harus didasari sebuah cinta, namun harus ada logika moral yang terikat dalam cinta mereka.
Ada yang disebut sebagai sistem poligami dan sistem poliandri, dimana sebenarnya agama, tradisi dan kultur menyembunyikan sebuah ketidakmoralan. Memang terkadang pasangan yang lain dapat menerimanya dengan penuh keimanan dan kebahagiaan. Namun tentu, ketidakmoralan ini dapat merusak keseimbangan keluarga yang menyebabkan perpecahan.
Memang memungkinkan tradisi dan kultur semua diatas sukses dibeberapa rumah tangga, namun pasti akan ada sebuah kegagalan pada sisi keluarga dari pasangan tersebut. Ini pula yang menyebabkan segala hal tidak bisa diterima satu sama lain.
Tentu ada beberapa pengecualian pada kesetaraan gender yang biasanya tergantung dengan kodisi yang berlaku. Misalnya seperti kita berada disebuah bus, terdapat seorang perempuan hamil, atau laki laki yang lumpuh yang secara moral tentu kita memprioritaskan mereka untuk mendapatkan pelayanan umum yang terbilang aman.
Jika kita simpulkan semuanya, Untuk mendapatkan kesetaraan sejati, haruslah menghapus kesetaraan palsu. Keagungan perempuan dan kegagahan laki laki, baik secara agama, tradisi, ataupun kultur yang sebenarnya agama, tradisi dan kultur ini mencoba membuat semuanya setara,namun tampaknya mereka menjilat lidah mereka sendiri. Ada sebuah kebocoran moral yang terjadi akibat mereka dan menyebabkan permasalahan baik pasangan, ataupun keluarga mereka.
