Kita berpikir bahwa kehidupan masyarakat itu setara, setidaknya itu yang sering di sosialisasikan. Tuhan di berbagai agama pun berfirman bahwa intinya, Dia menciptakan manusia dengan setara. Dan juga ada seorang bijak pernah berkata, bahwa Tuhan tidak menciptakan seseorang lebih mulia atau rendah dari yang lain. Dan tentu memang benar, manusia di ciptakan setara. kita berawal dari bayi, dan kita dilahirkan dengan bersih.
Yang jadi permasalahan adalah, bagaimana jika sekarang? Apakah kesetaraan itu ada? Apakah manusia dengan lingkungannya setara? Tentu jika di hadapan Tuhan, semua pasti setara, namun bagaimana dengan masyarakat?
Manusia pada akhirnya tidak pernah setara, karena tingkat ketekunan yang berbeda. Bisa jadi berasal dari kerja kerasnya atau silsilah keluarganya. Dengan begitu, kesetaraan menjadi hal yang dipertanyakan kembali pada masyarakat.
Misalnya kita ambil sebuah sampel, bayi A dan bayi B. Bayi A di didik sedemikian rupa dengan pendidikan yang berkualitas, sementara bayi B tidak pernah disekolahkan. Setelah mereka dewasa, A ini berusaha menggapai cita citanya, mengejar studi ke luar negeri atau bekerja keras berwirausaha. Sementara orang B ini dia hanya sebagai pencuci piring di sebuah cafe, walaupun B ini diberi kesempatan untuk sekolah kembali, tapi B ini merasa tidak sanggup dan hanya ingin menjadi pencuci piring. Yang terjadi adalah, A akan lebih dihormati daripada B.
Ini adalah gambaran gamblang dari kesetaraan yang menjadi tidak setara. Kerja keras dan perjuangan individu, akan membedakan kita dari kesetaraan masyarakat. Hal ini tentu harusnya membawa kebaikan pada diri kita ataupun masyarakat. Dan kita tidak bisa lepas dari timbangan kesetaraan ini.
