Kita selalu hidup dalam kebahagian, kesenangan, kekayaan dan segala
memiliki. Namun terkadang, ketika hal hal tadi hilang, maka kita sedih,
depresi, atau bahkan hingga bunuh diri. Mengapa bisa seperti ini?
Jawabannya singkat, karena kita tidak dibiasakan untuk hidup dengan
malang.
Hidup dengan malang adalah membiasakan diri kita berada
dalam posisi yang selalu berbalik dalam hidup yang biasa. Kebahagiaan
menjadi kepedihan, kesenangan menjadi kesedihan dan kekayaan menjadi
kemiskinan. Namun tentu, apa yang kita telah menjadi kebalikan ini bukan
selamanya hal negatif. Artinya, adalah kita harus dibiasakan untuk
merasakan penderitaan, walaupun hanya di benat saja membayangkan, agar
ketika kita mendapatkan kesedihan sesungguhnya, kita akan bersikap lebih
menerima kesedihan itu.
Namun apakah dengan begitu kita tidak
merasakan kepedihan? Kita harus tau, bahwa dunia ini tidak kekal, segala
yang didalamnya adalah kesedihan dan kepedihan. Suka cita adalah
kesedihan yang lebih baik, kebahagiaan adalah ketiadaan di dunia ini.
Kita tidak berhak merasa bahagia selagi masih ada orang orang yang lebih
merasakan kesedihan. Menerima apa yang telah terjadi itu kuncinya.
Bersyukur.
Dengan merasa bersyukur dan terbiasa untuk malang,
kita akan tidak terlalu banyak berekspektasi terlalu tinggi dan kecewa.
Ketika kita merasa lapar, dengan makan kita bisa bersyukur, dan dengan
lapar kita bisa bertahan. Dengan begitu, sudah tidak ada tempat untuk
mengeluh.
Selalu merasakan paitnya hidup, ataupun jika tidak
merasakan, buatlah kondisi dimana kita merasakan paitnya hidup. Dengan
begitu kita bisa lebih menerima kondisi diri kita, ketika pait yang
nyata dan manis yang nyata.
Jadilah malang.
Ditulis pada, 20 September 2021, 14:58
Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.