Cepatnya Informasi, Lambatnya Ide.

Ditulis pada, 17 July 2021, 12:57

Cepatnya Informasi, Lambatnya Ide.

1998 Kita memasuki era baru dalam teknologi. Yakni teknologi Informasi. Google, Yahoo, Bing, sudah menjadi alat dari cara kita mengakses Informasi. Belum lagi melesatnya sosial media di tahun 2004 dengan adanya Facebook, menyebabkan loncatan besar dalam dunia teknologi informasi.

Informasi seperti makanan pokok kedua kita untuk bertahan hidup di era yang serba cepat. Jika kita ketinggalan informasi, sama dengan ketinggalan pada zaman kita hidup. Seolah 1 detik informasi bernilai 100 tahun ke masa depan.

Apalagi di tahun 2007 era smartphone di mulai. smartphone sebagai alat kita untuk meraih informasi dengan lebih cepat dan lebih instant.
Kali ini kita akan membahas, dampak cepatnya informasi yang menyebabkan lambatnya ide yang muncul atau malah terhalangi dengan ratusan informasi yang mengalir.

Mulanya, apa itu informasi? Secara harfiah, informasi adalah sekumpulan data yang telah di olah, di olah disini bisa berarti hasilnya adalah sebuah media digital, media kertas, atau media suara. Setiap informasi tidaklah selalu hal yang benar. Berita yang salah pun disebut sebagai informasi.

Ide adalah konsep, filosofi, pemikiran atau saran tentang tindakan yang mungkin dilakukan. Ide terjadi karena kodisi tertentu, bisa jadi muncul dari permasalahan, kesalahan, koreksi, atau inovasi.

Namun apa hubungan dari informasi dan ide ini? Ide berisi informasi, namun informasi belum tenty berisi ide. Ini lah yang membuat kita kesulitan mendapatkan ide, karena informasi informasi yang didapat hanyalah sebuah tong kosong yang tidak ada manfaat. Kita tidak bisa lagi menyaring informasi ide dan informasi tong kosong, dan akhirnya kita kebanjiran informasi sehingga lambatnya ide yang masuk.

Negara butuh ide ide brilian untuk menjadi lebih baik, Namun terhalang dengan tsunami informasi yang datang setiap detiknya. Namun mana yang salah? Apakah salah informasi yang banyak ini?. Tidak, Informasi tidaklah salah. Yang salah adalah diri kita sendiri yang tidak bisa menyaring informasi, dan diri kita sendiri yang gatal menyebarkan informasi kepada orang lain yang belum tentu kebenarannya. Kembali lagi seperti konsep bencana banjir, kita yang buang sampah ke sungai, dan akhirnya sungai itu penuh sampah dan menimbulkan banjir.

Penyebaran Informasi sekarang seperti pohon, Dari batang hingga ke akarnya memiliki ratusan cabang dengan bentuk dan ukuran yang berbeda beda, ini di ilustrasikan sebagai informasi yang lengkap mulai terpecah hingga informasi yang di dengar orang A dan orang B berbeda. Perbedaan ini yang menyebabkan diskomunikasi dan terpecahnya makna informasi yang sesungguhnya.

Kita harus punya filter. Filter penyering informasi dan memisahkan mana informasi mana ide. Dengan begitu kita tidak kelelahan informasi dan bisa mengesekusi ide ide yang brilian untuk diri kita atau negara.
Perusahaan teknologi yang saya sebutkan di awal saat ini pun membuat kecerdasan buatan untuk menyaring informasi yang benar dan informasi hoax, Namun ini tidak lah cukup untuk mereka membendung informasi yang benar, jika kita tidak ikut berpartisipasi menyebarkan informasi yang benar kepada masyarakat.

Kita adalah akademisi, bergerak di bidang pendidikan. Di bidang yang paling fatal dalam suatu negara. Bertanya, kritis, skeptis adalah hal yang ada pada setiap akademisi. Jangan selalu menyimpulkan sesuatu tanpa data yang lengkap. Menyaring informasi agar memunculkan ide ide untuk menyelesaikan masalah.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.