Sudah menjadi darah daging untuk manusia haus akan ilmu pengetahuan. Menjadi orang yang cerdas, berpendidikan, bergelar banyak dan menghasilkan kekayaan dari ilmu yang didapat. Namun pernahkah kita memeriksa kembali keindahan dan kesucian ilmu yang didapat?
Ilmu bukan selalu identik dengan sekolah formal, melainkan segala sesuatu yang kita dapat ambil hikmahnya, baik secara positif maupun negatif. Misalnya, belajar tenang, maka kita akan mendapatkan hikmah berupa kesabaran. Atau terkadang film maupun lirik lagu membuat kita menjadi lebih tenang, atau juga misalnya program komputer yang memudahkan kita mendapatkan banyak kekayaan. Inilah yang harus kita perhatikan, bukan selalu hasil yang didapatkan ketika kita berilmu, tapi bagaimana cara kita mendapatkannya.
Semisal ketika kita menjadi orang yang fanatik terhadap lagu/film, kita menjadi sangat hafal baik alur cerita, makna, dan lirik dari lagu. Namun apakah itu berhak disebut sebagai ilmu sejati? Tentu ini ilmu, tapi bagaimana dengan cara kita mendapatkan film atau lagu tersebut? Apakah kita membeli film secara legal? Apakah kita berlangganan pemutar lagu secara legal? atau jangan jangan, kita masih mendapatkan semua itu dengan secara ilegal?.
Jika kita masih berada di fase ilegal, maka ilmu yang kita dapat dari makna-makna dan pengetahuan lagu atau film ini, hanyalah sebuah ilmu yang biasa. Kita tidak berhak menyebut diri kita sebagai orang yang fanatik terhadap sesuatu.
Tentu kita pernah membahas batas dari rasa kemanusiaan kita, yakni menghargai orang lain. Disini kita bisa gunakan bagaimana cara kita menghargai creator yang membuat karya yang telah dibuat.
Namun timbul permasalahan, bukankah jika untuk pribadi sendiri adalah hal yang tidak apa apa, karena tidak akan menimbulkan kerugian untuk orang lain? Justru disinilah permasalahannya. Kita berbicara tentang ilmu sejati untuk diri kita sendiri. Dan walaupun misalnya kita menjawab hal tadi, bayangkan, semua individu melakukan hal yang sama, apakah masih tidak menimbulkan kerugian untuk orang lain?
Terkadang kita selalu memandang sebelah mata orang orang yang kaya raya atas karya nya, The Beatles, Queen, Perusahaan Animasi, Perusahaan teknologi. Kita selalu melihat orang kaya karena uang dan aset yang melimpah, tapi kita tidak pernah melihat orang kaya ini atas penghargaannya terhadap karya. Ini permasalahan kita.
Menggunakan aplikasi bajakan, mp3 gratis di internet, streaming video bajakan, dan kita mendapatkan sebuah makna positif dan sebuah perubahan baik dari hal hal tersebut adalah sebuah pelanggaran kemanusiaan seperti menghargai karya, menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain. Dengan kata lain,
Ilmu sejati. Sempurna, menjadi,
Ilmu palsu. Cacat
