Hilangnya diri (Nihil)

Ditulis pada, 19 February 2023, 03:53

Hilangnya diri (Nihil)

Selama ini kita merasa bahwa hidup ini sangat kompleks dan banyak yang perlu di capai. Namun apakah seperti itu? apakah ini adalah hal yang diinginkan atau hanya kita menganggap bahwa kita menginginkan keinginan itu. 

Selama ini terlalu banyak hal sangat mengganggu diri saya, banyak yang harus dilakukan, banyak yang harus dikerjakan banyak yang harus di wujudkan dan banyak yang ingin dicapai. Namun memang apakah harus seperti ini?

Hidup menjadi lelah. Tujuan membuat saya kelelahan. 

Utang yang menumpuk, tuntutan orang lain yang bermacam macam, cita cita dan hal yang nampaknya harus dilakukan, harus dilakukan. Namun apakah itu yang diinginkan?

Apa yang saya inginkan? apa yang sebenarnya saya inginkan? Satu kata, nihil.

Banyak aliran filsafat yang mengarah pada kehilangan. Misalnya seperti minimalisme. Minimalisme membuat saya terus reduce barang dan kebutuhan saya, baik fisik maupun digital. Dan mencari kebahagian yang esensial dalam hidup. Namun memang akhirnya saya terlalu termakan dalam kebutuhan yang sebenarnya tidak dibutuhkan, yang akhirnya merubah masa depan yang semakin gelap semakin gelap.

Merenung, namun terus dilakukan. Harus ada sebuah hal yang membuat saya tetap dalam zona dimana pengujian. Saya harus menyiksa diri dalam keadaan ketika saya membutuhkan sesuatu, apakah saya membutuhkannya. Menjadi nihil untuk kepentingan diri. Namun jelas, ada harga yang harus dibayar untuk berada dalam zona itu. Yakni menghilangkan kenikmatan. Sama seperti ajaran Buddha Gautama, atau kekuatan hedonisme, atau nihilisme.

Apakah ini terlalu rumit untuk anda? memang, karena saya sendiri lah yang merumitkan hidup. Hanya ada dua jalur kehidupan. Hidup lurus dan aman dan tua dan mati, namun tidak merasakan apa apa dalam hidup atau eksistensi makna hidup? atau hidup berkelok kelok, dalam tantangan dalam kesakitan dalam kemandirian dalam kepedihan namun mengenal arti kebahagiaan dan makna dari hidup?

Tentu orang biasa akan mengambil jalur paling nikmat untuk hidupnya. Dan itu tidak salah. Namun kami orang yang berbeda, orang yang berfilsafat atau saya sendiri mungkin, memilih jalur yang kedua. 

Beberapa alasan. 

Pertama menurut Albert Camus, hidup adalah absurd, semua sudah kacau. Atau menurut minimalis, eksistensi kebahagiaan berasal dari diri sendiri. Atau seperti kata stoik, apa yang bisa kendalikan seharusnya bisa kita kendalikan. Atau seperti kata The beatles, Hidup itu singkat, dan tidak ada waktu. Atau seperti kata Freedie Mercury, Itu hidup yang keras.

Atau seperti Manusia super yang digagas Nietzche, kehendak yang berkuasa, mengatur dan menjadi manusia yang tangguh. Independen. Sendiri dan terdepan. Kekuatan.

Hidup saya sama seperti anak kaya yang diberi banyak kebutuhan sejak lahir. Diberi banyak kenikmatan sehingga nyaman sekali dalam lingkungan ini. Namun belakangan saya tahu, bahwa kenikmatan yang diberikan adalah sebuah kepamrihan orang orang, atau dalam arti bahwa mereka berinvestasi kepada saya agar saya dapat membalas dan memanjakan semua yang terlibat dalam investasi ini untuk saya lindungi dan membayar kembali.

Ini terlalu melelahkan menurut saya. Kebahagiaan yang dicapai yang sebenarnya sederhana, harus dipersulit atau dipermudah dalam bentuk uang atau jasa yang akhirnya mengkondisikan bahwa jasa ini sudah tidak dapat di bayar, sehingga, tolong rawatlah kami hingga mati.

Kebebasan saya terenggut dan saya tidak tahu bagaimana saya menjadi diri saya?

Satu satu nya cara saya melakukannya adalah dengan menjadi nihil, minimalis dan menghilangkan segala apa yang dapat saya hilangkan dan tidak dibutuhkan. 

Dunia memang sangat absurd dan gila. Mereka mengedepankan eksistensi di sosial media, atau status sosial. Dengan begitu mereka bisa mengatakan bahwa kami eksis dalam hidup ini.

Sungguh sangat menakutkan bila hidup terus menerus seperti ini. 

Disamping hidup dengan pengguna agama yang menganggap agama adalah jalan keluar, namun sebenarnya mereka menggunakan agama sebagai alat dan tameng dalam segala masalah. Bukankah ini doktrin yang disebut Karl Marx sebagai agama adalah Candu masyarakat? 

Saya sangat kasihan kepada agama yang telah dibangun oleh para nabi, pastur, Buddha dan Dewa dewa lain yang menunjukan kebaikan esensialnya. Namun malah pengguna platform ini malah menyimpang dan sangat rusak sikapnya.

Kata kata dan bahasa yang digunakan terlalu kotor dan jorok, namun mereka suka atau mungkin tidak suka jika tidak di ucapkan.

Segala kekesalan ini terjadi karena mereka semua tidak pernah mengenal kenihilan dan kekosongan. Jika pun saya mengenalkannya, maka saya akan disebut sebagai orang sesat.

Beberapa lalupun seperti itu, ketika saya pulang dari aktivitas luar, seseorang malah bilang, saya mengikuti aliran aliran yang sialnya adalah aliran satu 'ras' nya mereka. Sangat buruk sekali dunia ini.

Apakah tidak ada lagi orang yang baik di dunia ini? Atau saya sendiri yang menilai bahwa manusia sekarang adalah terburuk?. 

Benar menurut Thomas Hobles, yang menganggap pesimis terkait manusia. Manusia sangat buruk sikap dan emosinya sehingga orang yang sadar akan hal itu harus keluar dalam lingkungan manusia. Walaupun saya tetap manusia, namun saya memutuskan untuk keluar dari siklus manusia lain. Hal hal yang dianggap harus atau dilakukan, saya keluar dari situ, sama hal nya sosial media, komunitas, dan banyak hal yang bersifat komunal aku keluar darinya. Bahkan agama sekalipun. 

Berbicara kembali soal agama, agama selalu bagus dan indah. Namun agama akhirnya memiliki kanker ganas yang terus mengerogotinya karena virus virus kecil yang sok terhadap agama hingga akhirnya agama akan mati dan menyedihkan. 

Awalnya saya berfikir bahwa jalankan agama dengan apa yang saya yakini. Namun akhirnya, karena terlalu banyak virus yang ada dalam agama, membuat sangat sulit mendapatkan ekstrak murni dari sebuah agama. Hanya tersisa kitab sucinya saja yang entah masih suci atau tidak. Karena selama ini kita tidak tahu apakah kitab itu terkena virus oleh orang orang yang punya kepentingan didalamnya. 

Sehingga untuk saat ini, saya mundur dari hal itu, dan mencari agama sendiri. Sama halnya para nabi terdahulu ketika mencari Tuhannya. Karena itu yang terbaik untuk saya sementara ini. 

Pertanyaan saya terakhir, kapankah ini selesai? kapankah ini semua menjadi nihil? Namun jika menunggu semua netral, maka hanya sebuah cita cita palsu sajah yang tidak pernah mungkin terwujud. Sehingga, satu satunya cara adalah menjadi nihil dan pergi. 

Hidup sudah rusak, hidup sudah kacau.



Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.