Filosofi orang lain.

Ditulis pada, 01 October 2021, 02:11

Pada buku atau tulisan sebelumnya, kita pernah berbicara tentang jadilah orang lain, membuat kita harus merasakan perasaan apa yang dirasakan oleh orang lain karena tingkah laku kita terhadapnya. Namun disini kita akan menekankan lebih dalam, mengapa kita harus 'menjadi orang lain'.

Orang lain artinya adalah orang selain diri kita. Dari kalimat ini saja, bisa disimpulkan bahwa apa yang kita fikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita percayai, apa yang kita lihat, pasti akan berbeda dengan orang lain. Bahkan jika kita memiliki kembaran yang identik.

Namun, segala sesuatu yang berbeda ini diantara kita dan orang lain, tentu bukan berati kita tidak bisa menyamakannya. Filosofi orang lain ini akan membawa kita ke pemikiran baru agar lebih menghargai dan menyayangi orang lain.

Jepang adalah salahsatu negara yang jujur terhadap hak milik seseorang. Pencopetan, penculikan dan perampokan adalah hal yang sangat jarang sekali terjadi (jika di bandingkan dengan Indonesia). Masyarakat Jepang hanya memiliki satu pertanyaan untuk dirinya sendiri, "Apa yang terjadi jika saya berada di posisinya?"

Pertanyaan ini akan menggali pertanyaan pertanyaan yang sangat mendasar dalam hidup bermasyarakat. Misalnya seperti mengambil dompet yang terletak di jalan. Hal yang terlintas di pikiran orang Jepang jika ia mengambil dompet itu adalah :
- Bagaimana jika orang itu hanya punya uang di dompet ini saja?
- Bagaimana jika orang itu tidak bisa membayar kereta untuk pulang?
- Bagaimana jika orang itu belum gajian lagi ?
- Bagaimana dengan anak dan istrinya jika orang itu telah menikah?
- Bagaimana jika ia stres dan akhirnya meninggal karena harus banyak berkerja untuk menutupi ekonomi yang hilang untuk keluarganya?
- Bagaimana akhir dari kondisi anak dan istrinya?

Seperti yang saya bicarakan di atas, akan timbul pertanyaan pertanyaan lain dari "Apa yang terjadi jika saya berada di posisinya?". Ini yang selalu di pikirkan mayoritas orang Jepang jika menemukan dompet di jalan. Bahkan di saat posisi mereka merasa kekurangan uang, atau hal yang sejenisnya. Moralitas yang luar biasa.

Namun bagaimana dengan kita? Kebanyakan atau semoga sedikit dari kita yang masih berpikiran untuk mengambil uang itu karena kita kekurangan uang. Sedikit dari kita itu masih merasa bahwa hidupnya penting untuk dirinya sendiri. Menghalalkan segala cara agar menghidupi dirinya atau bahkan keluarganya. Sangat menyedihkan.

Manusia yang baik, adalah manusia yang bermoral.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.