Menjadi manusia yang nyata.

Ditulis pada, 25 March 2023, 02:27

Menjadi manusia yang nyata.

Apakah benar kita hidup dengan benar? Pada dasarnya hidup ini adalah sebuah eksistensial. Kita menunjukkan diri kita hidup adalah karena kita eksis sebagai manusia. Namun bagaimanakah menunjukkan ke eksisan ini? di era yang modern ini, mmenunjukkan eksistensi sangat lah mudah, dengan post di sosmed saja kita dapat menunjukkan itu semua, bahkan kita mendapatkan nilai dan harga diri kita dalam sosial media itu. Kita dapat lebih merasa percaya diri dan lebih bangga jika kita mendapatkan like dan subs. Namun apakah seperti itu ? Tidak! itu munafik dan berwajah dua!


Eksistensi tidak berasal dari pengakuan orang lain. Ditambah apa yang dilakukan adalah sebuah kecanduan narkotika yang merusak dan membuat eksistensi kita tidak benilai. Kita eksis, namun ia tidak berkualitas. Layaknya kotoran yang terinjak di jalan. Eksistensi seperti itu hanya menjadi sebuah kemunafikan. Bagaimana itu bisa munafik, karena kita memilih diri kita yang terbaik, diri kita yang paling indah engle nya dan diri kita yang positif. Itu bukanlah sebuah eksistensi. Pengakuan yang hina dan tidak memanusiakan diri sendiri. Memalukkan. 

Kita juga mungkin ada dalam sebuah fase dimana ketika eksistensi A kita (misalnya foto di sosial media), dan mood atau perasaan kita berubah, kita akan menghapus itu dan mengganti dengan sesuatu yang baru, sangat mudah sekali merubah eksistensi diri kita sendiri, bukankah itu sungguh memalukkan dan merendahkan makna eksistensi itu sendiri?


Eksistensi haruslah berasal dari sebuah kesadaran yang pasti dan rasa keluar dalam zona nyaman, atau berada dalam keadaan yang di luar keadaan kita sekarang. Eksistensi mencoba untuk ada di luar itu. Ibaratnya seperti orang yang sedang mendaki tebing, dia terus menerus ada dalam tekanan dan terus menerus memanjat sehingga ia merasa setiap detik adalah hidup dan kematiannya. Itulah eksistensi. Eksistensi malah tidak menunjukkan dirinya ada untuk saat ini, namun mencari keberadaan baru setiap detik dalam sebuah tingkah keluar dari zona kenyamanan. Mungkin boleh istirahat sejenak, seperti halnya pendaki tebing tadi, ia tidak hanya memikirkan istirahat, namun memikirkan bagaimana terus memanjat dan hidup tentunya.  Namun bagaimana dengan kita selama ini? Ketakutan, minder, mager, gabut adalah hal yang sangat memalukkan bagi manusia, karena mereka telah menyia nyiakan peluang dirinya untuk eksis. Perlakuan seperti itu yang akhirnya berpindah pada eksistensi fana sosial media.  


Digitalisasi eksistensi memang menjadi topik tersendiri sebetulnya, namun kurang lebih, digitalisasi digunakan untuk menciptakan dunia kedua. Dunia canggih namun mempunyai rumus dan sistem yang sama seperti dunia tempat tinggal kita sekarang.  Eksistensi manusia digital itu berdasar pada eksistensi manusia manual, misalnya seperti moral, di dunia nyata, mencuri adalah tindakan melanggar moral, dan kita menyetujui itu. Namun bagaimana dengan dunia digital? sama! Bukan berarti karena eksistensi digital adalah sebuah kefanaan, namun moralitas kita sebagai manusia tetap ada saat itu. Tetap memiliki moral untuk tidak mencuri.


Sebenarnya kita tahu itu salah, moral kecil di hati kita tahu itu salah, namun kita tidak pernah menerima itu, hanya untuk ego. Munafik. 


Manusia yang nyata akan didasari pada menghargai Tuhan, Menghargai ciptaannya, dan menghargai waktu. Harus ada sebuah kehendak untuk menunjukkan kekuatan eksistensial manusia pada sebuah kondisi. Misalnya seperti Hitler atau bahkan Stalin, tentu dalam beberapa sudut pandang, mereka adalah penjahat perang, namun dalam beberapa hal mereka menunjukkan terus menerus eksistensialisme nya dalam sebuah tindakakan. Mereka terus memposisikan dirinya  dalam kesakitan dan kepedihan hidup, bahkan hingga mengorbankan dirinya sendiri, penyakit dst demi menunjukkan eksistensi nya sebagai manusia kuat. 


Namun bukan berarti kita harus seperti mereka, melainkan dengan kekuatan kita sebagai manusia, eksistensi yang telah diberikan oleh Tuhan kita, maka keluarkanlah semua. Bayangkan setiap detik adalah peluang hidup sekaligus peluang kematian kita. Detik detik yang digunakan adalah kekuatan untuk terus keluar dari zona nyaman dan keluar dalam kemampuan kita sendiri. Terus menerus di paksakan untuk menghasilkan nilai yang semakin kuat dan nyata.


Istilah eksploitasi menjadi penutup tulisan ini, bahwa dengan kita terus menerus di eksploitasi, kita akan menghasilkan sebuah nilai baru, dan yang terpenting adalah kemampuan dan kekuatan baru yang terus menerus menjadi, sehingga kita menjadi manusia yang nyata.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.