Pernahkah kita berfikir bahwa lebih baik menjadi diri yang dulu dari pada diri yang sekarang?
Manusia
terkadang hanya menerima dirinya tentang hal baik saja, namun ketika
menerima suatu hal yang buruk, maka timbul sebuah pernyesalan, "Lebih
baik menjadi diri yang dulu". Namun apakah ini adalah sebuah kebaikan?
Apakah benar, diri kita yang dulu adalah lebih baik dari diri kita yang
sekarang?
Kita harus paham dulu beberapa hal, pertama adalah
bagaimana cara kita melihat hal yang menjadi faktor penyesalan dengan
berbagai sudut pandang, atau memperkirakan apa sih efek positif dari
faktor penyesalan ini? Dengan begitu kita bisa menyikapi diri lebih
positif dan hidup tanpa pengaruh penyesalan.
Hal kedua adalah
menelan bulat bulat apa yang telah terjadi, tentu sangat sulit untuk di
praktekan, namun jalan terbaik adalah menerima sepenuhnya tentang apa
yang telah terjadi, dengan menerima lapang dada, kita tidak perlu
memikirkan hal lain.
Kembali ke statement awal, "Lebih baik menjadi
diri yang dulu", Kita telaah baik baik. Secara harfiah, bukankah kita
yang sekarang lebih baik dari yang dulu?. Maksudnya adalah pengalaman
yang kita dapat pasti lebih banyak dari diri kita yang dulu. Di tambah
lagi, diri kita yang sekarang adalah kumpulan dari diri kita yang dulu.
Namun pertanyaannya, mengapa bisa muncul statement "lebih baik menjadi
diri yang dulu" ? Karena sebenarnya kita lupa dan mengabaikan diri kita
yang dulu. Seakan diri kita yang dulu hanyalah sebuah lembaran lama yang
tertumpuk dengan lembaran lembaran diri kita yang sekarang.
Poin
nya adalah jika kita telah melewati waktu, kita harus lebih perhatian
dengan masa lalu, satu hal yang bisa kita lakukan adalah mengambil pesan
dari diri kita yang dulu, mengambil apa yang disebut dengan pesan
hidup. Ini lah yang harusnya menjadi "kitab" kita untuk memandu hidup
diri kita yang sekarang menjadi lebih baik.
Hal positif di masa lalu kita pertahankan atau tingkatkan, sedangkan hal negatif di masa lalu kita ambil makna positifnya untuk menjadi pembelajaran kita di masa yang sekarang. Menurut saya, yang namanya penyesalan itu tidak pernah ada, penyesalan hanya di dalam cara kita bagaimana menyikapi sesuatu hal.
Namun ada yang kurang dari permasalahan ini, bagaimana dengan pendapat orang lain tentang diri kita, misalnya, "kamu lebih baik yang dulu dari yang sekarang". Bagaimana cara kita menyikapinya? Satu hal yang pasti adalah, hidup kita di atur oleh diri kita sendiri, di jalani oleh kita sendiri, Kita harus ada rasa "bodo amat" dengan pendapat orang lain, selagi itu tidak cocok dengan diri kita. Yang bisa membenarkan atau menyalahkan kita, adalah kita sendiri.
Namun apakah ini membuat kita gak peduli dengan pendapat orang lain? Konsepnya tidak seperti itu, pendapat orang lain adalah sebuah komponen tambahan dalam kehidupan kita, selanjutnya kembali lagi, bagaimana cara kita menyikapi komponen itu. Jika memang komponen ini berdampak baik buat kita, maka kita bisa gunakannya dalam kehidupan kita yang sekarang, namun jika tidak ya jangan digunakan. Sesungguhnya, kita akan lelah sendiri jika terus menerus ingin memenuhi ekspetasi orang lain.
