Cinta dan kebahagiaan.

Ditulis pada, 17 May 2021, 18:12

Cinta dan kebahagiaan.

Kebahagiaan tentunya bersifat relatif pada setiap individu. Bisa jadi, kita bahagia pada hal satu, namun tidak bahagia pada hal lainnya. Begitu pula jika kita berada pada posisi orang lain. Tentu kebahagiaan relatif dengan pengalaman dan kebutuhan setiap individu.

Namun seperti apa bentuk dari cinta dan kebahagiaan ini sejatinya?

Mungkin pada dasarnya cinta melibatkan dua individu yang saling 'mengorbankan' satu sama lain artinya saling membutuhkan dan saling menutupi kesalahan, namun sebenarnya cinta ini lebih luas, cinta ini adalah sesuatu yang suci dan memberikan kebahagiaan bagi yang merasakannya.

Namun ketika kita mempraktikkannya secara langsung, tampaknya cinta ini lebih rumit dari yang kita kira. Misalnya cinta orang tua kepada anaknya,  Orang tua yang menyayangi anaknya pasti akan merasa nyaman bersamanya dengan keadaan baik, Namun perwujudan cinta lainnya semisal ketika orang tua kecewa kepada anaknya, dengan rasa cinta dan sayang tentu akan memaafkan perbuatan anaknya, Namun terkadang dengan hal seperti ini akan menimbulkan rasa manja yang bisa jadi akan mengancam masadepannya kelak.

Kita mungkin pernah mencintai sesuatu, seperti handphone, makanan tertentu atau benda lainnya, Namun bagaimana dengan mencintai seseorang?. Terkadang cinta tidak bisa digambarkan dan dipahami secara harfiah.

Cinta sejatinya bukan sekedar penghargaan, prefensi, atau keinginan. Cinta lebih besar dari sana. 

Cinta dan kebahagiaan berasal dari hati kecil kita, dari hati yang memiliki rasa.

Cinta dan kebahagiaan bukan dua hal yang berbeda, namun, cinta dan kebahagiaan adalah satu komponen utuh. Cinta adalah kebahagiaan.

Cinta sejati, bukan berasal dari hal yang luar biasa, misalnya seperti taman bunga, kita mencari bunga yang paling indah adalah hal sulit, cinta tidak harus mencari yang sempurna.

Semakin kita mencari yang terbaik, maka kita tak akan pernah menemukannya. Namun jika kita sudah menemukan cinta dan terikat dalam sebuah hubungan, janganlah sekali-sekali mencoba tuk berpaling ke lain hati, karena itulah awal sebuah kehancuran.

Jangan pernah mengabaikan cinta yang sudah di raih, hanya karena pesona cinta semu di sekitar kita, karena itu hanya di permukaan saja yang kau lihat.

Perhatian kita kepada cinta yang lain, biasanya melebihi dari cinta yang telah kita dapat, itulah yang mengawali sebuah perselingkuhan hati, hentikan jika itu sudah merasuki diri, kembalilah kepada keabadian cinta kita.

Jangan pernah sia-siakan cinta yang pernah tumbuh dihati, karena waktu tidak akan pernah surut ke belakang dan kembali.



Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.