Burung dan Sangkar, Manusia dan Rumah

Ditulis pada, 30 July 2023, 23:35

Burung dan Sangkar, Manusia dan Rumah

Seperti yang kita tahu, hidup di era pasca reformasi menyebabkan banyak perubahan psikologis terhadap masyarakat Indonesia. Militeristik yang mementingkan ketegasan, disiplin dan ketakutan ditambah era pasca feodalisme menjadi momok yang melekat sangat dalam diri masyarakat. Memang beberapa hasil dari ini mengeluarkan ouput yang positif dan baik, namun memang kita harus melihat sesuatu dari sudut pandang yang gagal dari sistem ini. Sistem yang seharusnya sudah tidak ada namun tampaknya sangat mengikat generasi masyarakat era itu, dan menimbulkan efek berantai yang entah kapan ini selesai. Salahsatu dampak yang terjadi adalah bagaimana generasi tersebut merubah manusia menjadi burung.

Kita tahu sudah hakikatnya manusia itu bebas, seperti yang dikatakan banyak filsuf, misalnya Plato. Ia sangat memuja demokrasi yang bepatok pada kebebasan manusia, tentu dalam kasus demokrasi, kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan berpendapat. Namun poinnya adalah, kebebasan menjadi dasar sebagai manusia untuk dapat melakukan banyak hal di dunia ini.


Sama hal nya burung, burung dengan simbol sayapnya menyatakan kebebasannya. Begitu pula seharusnya manusia. Burung yang memiliki sayap sangat di wajibkan secara alamiah untuk terbang dan untuk bebas. Pergi kemanapun dan mencari eksistensi hidupnya sendiri. Dengan terbang dan merasakan rasa sakit, sayap burung akan terus menguat dan menguat hingga akhirnya dapat terbang kemanapun dan bertahan dimanapun dia berada. Namun yang kita lihat hari ini, banyak orang yang memenjarakan burung, dengan anggapan bahwa burung itu indah dan sangat langka, sehingga sangat disayangkan jika burung tersebut di bebaskan. Namun memang, burung itu terus di beri makan, dirawat, dimandikan dan hidup yang akhirnya bergantung dengan majikannya.


Tentu yang namanya kebergantungan dapat di lihat dalam dua arah, apakah itu baik dan apakah itu buruk. Itu baik ketika burung itu mati sebelum majikannya mati. Mengapa? Karena dalam kondisi kebergantungan itu, burung itu sudah tidak dapat melakukan apa saja, mau berusaha untuk terbang jauh sudah kelelahan, mau mencari makan, dia kalah dengan burung lain sehingga burung ini lemah secara fisik dan mental. Dan ketika ia mati, ia mati dalam kemanjaan dan tidak tahu seperti apa dunia itu. Namun bagaimana jika majikannya mati terlebih dahulu? Sangat disayangkan, burung itu ditinggalkan dengan tidak mengetahui apa apa dan hidup dalam kebergantungan, ketika kita kehilangan tempat begantung, kita akan mati dalam keadaan tidak bisa apa apa dan hidup dalam kesedihan mendalam karena ia tidak bisa hidup.


Sehingga dengan kata lain, mau itu burung mati dalam kondisi sebelum atau setelah majikannya mati, ia tidak bisa melakukan apa apa, hidup nya hanya mengetahu sangkar dan hanya hidup dalam genggaman majikan.


Namun apa hubungannya dengan feodalisme dan militeristik dengan burung dan sangkarnya? Tentu sangat ter representasi dengan baik pada kehidupan manusia, khususnya generasi milenial (1990-2000). Semua orang tua tanpa terkecuali pastinya telah hidup sebelum tahun 1990 dan melewati fase militeristik dan feodalisme yang begitu kental. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, ini termanifestasi pada sebuah pola dan sikap teranalogi pada majikan burung.


Potensi dasar dari manusia yang seharusnya bebas, sama hal nya burung, menyebabkan anak anak hasil generasi tersebut menjadi terkurung dan terjebak dalam sangkarnya, em maksudnya rumahnya. Tentu jelas, dengan landasan cinta dan kasih sayang yang di terbarkan pada anak anak itu seperti nyata, namun itu bukanlah cinta dan kasih sayang. Melainakan sebuah sikap protektif. Yang menyebabkan manusia dengan potensi besarnya di paksa untuk patuh dan terhalang dengan sangkarnya, maksudnya rumahnya.


Hal diatas masihlah pernyataan secara fisik, namun bagaimana dengan masalah psikologis anak tersebut? Sangat diketahui dan sangat disadari dengan melakukan ‘kurungan’ psikis menyebabkan psikis anak anak itu terkurung dan tidak tau bagaimana cara mengekspresikan diri. Kita lihat saja, generasi anak anak hingga sekarang, komunikasi, demokrasi, dan kemampuan sangat disayangkan tidak pernah terlihat lagi, mengapa demikian? karena ‘rumah’nya terkunci. Hidup dalam keteraturan, keinginan, cita cita keluarga atau orang tuanya selama itu. Dan itu akan terus di wariskan kepada anak anaknya kepada anak dari anak anaknya dan seterusnya, sehingga kita lihat generasi ke 2-3 ini hidup dalam aturan dan lebih suka di perintah dan di tugaskan daripada berinisiatif dan aktif mengekspresikan diri.


Dan yang sangat disayangkan, mereka tidak pernah merasakan ini adalah sebuah kesalahan. Mengapa? Karena anak anak itu tidak pernah di berikan kebebasan untuk salah, untuk sakit dan untuk merasakan dunia.


Seperti halnya burung, ketika orang tua dan keluarga anak anak itu meninggal, sangat disayangkan anak anak ini menjadi kalang kabut dan tidak tahu bagaimana untuk hidup. Mengapa? karena mereka selalu hidup dalam keberadaan, selalu di dukung, selalu di manja dan selalu kenyang, seperti halnya burung yang diceritakan tadi. Mereka akan hidup dalam keadaan miris, rusak secara mental dan fisik karena ia tidak pernah bisa belajar dengan baik soal dirinya sendiri, mengenai benar dan salahnya hidup. Tidak pernah merasakan sama sekali. Ia hanya akan mati dalam keadaan terpuruk.


Dapat dibayangkan cinta kasih sayang yang selalu di tebarkan oleh majikan burung atau orang tua anak anak itu, yang dirasa sangat baik dan bagus untuk anak, nampaknya sangat berdampak dalam pada burung atau anak anak itu ketika majikan atau orang tuanya meninggal. Jauh di akhirat sana, majikan dan orang tuanya kelak akan menyesal melihat burung atau anak anaknya tidak dilepaskan dan dibebaskan sejak ia remaja, mereka akan menangis dan ingin di kembalikan ke bumi untuk dapat melepas ‘sangkar’ burung itu atau membuka ‘rumah’ anak anak itu sehingga anak anak itu bebas. Namun itu sungguh lah telat dan sangat jahat, jikapun itu terjadi.


Karena baik burung atau anak anak itu, telah rusak dan akan mati dalam persaingan dunia yang ketat.


Dosa besar yang tidak akan pernah termaafkan.


Kembali ke Tulisan.
Kembali ke Awal.