Sudah sangat lama saya merasakan nihilitas. Ketika ia hadir di hadapan, saya selalu merasa mampu menjawabnya: bahwa hidup haruslah bermakna secara terus-menerus. Saya melawan nihilitas itu dengan banyak hal. Namun belakangan, muncul sebuah pertanyaan yang tidak lagi bisa saya jawab, yakni tentang perlawanan itu sendiri.
Albert Camus mengatakan bahwa pemberontakan untuk menciptakan nilai baru akan membuat kita terus bertahan. Saya pun terus-menerus menciptakan nilai baru itu, tetapi perlawanan tersebut pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Dengan melawan nihilitas, kita sebenarnya sedang membohongi diri sendiri; kita berpura-pura menganggap nihilitas itu tidak ada. Hal ini jelas bertentangan dengan esensi filsafat itu sendiri. Kepura-puraan menghalau nihilitas justru membuat kita sangat tidak jujur terhadap diri sendiri.
Namun, seperti yang saya alami, pertanyaan "mengapa" itu tetap tidak dapat terjawab. Saya merasakan adanya pemikiran baru terhadap nihilitas ini, yang tampaknya telah dijawab oleh Emil Cioran. Cioran kemungkinan besar akan memandang hal yang sama tentang absurdisme Albert Camus—tentang batu Sisifus dan pemberontakannya. Poin utama Cioran adalah: terima nihilitas itu, resapi, nikmati, dan ambil. Nihilisme baru akan menampakkan dirinya secara utuh jika kita jujur.
Seperti yang pernah saya tulis tentang “Sang Filsuf”, saya selalu merasa berada di ujung jurang. Di sebelah kanan saya adalah daratan, dan di sebelah kiri saya adalah jurang maut. Sedikit saja kaki kiri ini bergeser, keseimbangan akan hilang dan saya akan jatuh ke dalam nihilisme ekstrem. Perasaan itulah yang selalu saya bawa sejak dulu. Pengosongan diri secara terus-menerus semenjak belajar filsafat justru membuat jurang yang saya miliki semakin dalam. Bahkan, ketika salah melirik ke arah jurang itu, ketakutan langsung menjalar. Akibatnya apa? Saya selalu menoleh ke kanan. Namun, apakah ini artinya saya sedang memberontak dan tidak jujur pada nihilitas? Cioran mungkin akan memaki saya karena hal ini.
Biarlah saya tetap menatap di antara jurang dan daratan itu. Namun, bagaimana jadinya? Ketakutan itu tetap ada, rasa merinding sesekali menggerogoti tubuh. Saya selalu ingin mencoba berdamai dengan nihilitas, namun entah mengapa, selalu ada rasa takut dan ketidaknyamanan yang mengganjal di hati.
Sialnya, memang seharusnya seperti itu. Saya tidak bisa kembali menjauh menuju daratan, tetapi saya juga tidak bisa melompat ke dalam jurang. Saya terikat dengan sangat kuat di antara keduanya. Itulah mengapa saya tertahan di titik ini.
Apakah saya harus berdamai dengan nihilitas? Nampaknya tidak bisa. Pada akhirnya, nihilitas tidak akan pernah peduli apakah saya mau berdamai dengannya atau tidak. Namun, di situlah ego manusia saya muncul kembali: bahwa manusia, sejatinya, selalu menginginkan pijakan untuk berdiri. Jika saya memilih berdamai dengan nihilitas, saya harus melompat, dan tindakan itu akan menghancurkan eksistensi diri saya sendiri. Sungguh rumit.
Tetap saja, ada semacam ketidakmauan atau sesuatu yang mengganjal di antara keduanya yang terus menghantui. Belakangan, saya berpikir untuk jujur pada diri sendiri dan berkata: "Iya, semua kekosongan ini ada, dan saya takut. Ya sudah." Tapi, apakah jalannya harus selalu seperti ini?
Saya membutuhkan sebuah motivasi eksistensial, dan hal yang saya temukan adalah cinta. Masih banyak orang yang mencintai saya, dan saya pun mencintai mereka. Istri, anak, dan keluarga adalah api yang menjadi motivasi eksistensial mengapa saya harus tetap ada di dunia ini. Namun, konsekuensinya tetap mengintai: semakin terang sisi kanan daratan itu bersinar, maka akan semakin gelap dan menakutkan pula jurang di sisi kiri itu tampak.
